Satu tugas yang masih
tersisa diantara tugas resensi lainnya. Harus disimpan untuk kenangan. Ketika
nanti menilik masa yang dulu pernah ada. Masa berjuang, pun hari ini tetap
berjuang. Dalam hidup ya kita harus berjuang. Bukan hidup namanya jika tidak ada
perjuangan.
Rumitnya
Wajah Perkastaan Bali
Judul : Mengurai Benang Kusut Kasta
Nama
Pengarang : Made Kembar Karepun
Penerbit
: Panakom, 2007
Tebal
Buku : XXV + 334
Dalam
kehidupan bermasyarakat, persoalan menyangkut status sosial selalu menjadi
suatu perdebatan. Terlebih di Bali yang begitu mengagungkan kasta seseorang. Di
zaman kerajaan absolut yang berlangsung selama berabad-abad, kasta seseorang
dapat menentukan tinggi rendahnya kedudukan sesorang. Apakah sistem tersebut
masih relevan digunakan di zaman modern seperti sekarang? Apakah sistem ini
tidak melanggar Hak Asasi Manusia yang dilahirkan dengan status yang sama?
Masalah kasta merupakan
isu yang sangat sensitf bagi masyarakat Bali. Akan tetapi, Made Kembar Karepun
secara blak-blakan berani membahas masalah kasta yang begitu kejam di Bali. Buku
ini secara cermat membahas permasalahan kasta yang telah berlangsung selama
berabad-abad di Bali. Diawali dengan penjelasan mengenai kedudukan kaum
triwangsa yang dipandang sangat agung oleh kaum sudra. Juga bagaimana kaum sudra harus bertutur kata terhadap kaum triwangsa. Kaum sudra dituntut untuk mengunakan bahasa yang sopan terhadap kalangan
triwangsa. Meskipun kaum triwangsa bisa seenaknya membalas sapaan
dari kaum jaba dengan bahasa kasar.
Sesungguhnya kasta
merupakan suatu sebutan yang diperoleh seseorang karena jabatan yang
dipangkunya dan bukan berdasarkan keturunan seperti yang dilaksanakan selama
ini. Sebutan ini bisa saja berubah ataupun dicopot jika sang pemangku jabatan
tersebut tidak melaksanakan tugasnya dengan baik ataupun telah menghina raja
yang sering disebut dengan amada-mada
ratu. Raja juga memiliki hak untuk mengangkat wong sudra menjadi ksatria
jika orang tersebut dianggap memiliki jasa yang besar terhadap raja.
Menjadi seorang triwangsa tidaklah mudah. Golongan triwangsa memiliki tugas yang sangat
berat. Di samping harus menjalankan roda pemerintahan, golongan ini harus mampu
memberikan pencerahan kepada rakyat. Jika mereka tidak mampu melaksanakan tugas
itu, maka mereka akan terkena hukuman petita
wangsa, yaitu penurunan kasta mereka dari golongan triwangsa menjadi sudra.
Akan tetapi, seperti sudah dapat ditebak belum pernah ada kejadian petita wangsa yang menimpa raja karena
rakyat tidak berani mempermasalahkannya. Dalam buku ini Kembar Karepun secara
gambling menyebutkan ketidakadilan yang terjadi terhadap kaum sudra mengenai aturan ini. Kaum triwangsa dengan seenaknya bisa
mengangkat dan menurunkan derajat orang. Sedangkan jika mereka yang melakukan
kesalahan, seolah-olah kesalahan itu tidak pernah mereka perbuat. Mereka selalu
bersembunyi di balik sugesti bahwa raja merupakan titisan dewa dengan paham raja dewa, sehingga rakyat menjadi takut
akan menentang dewa yang mereka junjung.
Zaman
Bali Aga, Majapahit, dan Kolonial Belanda
Dalam sistem pemerintahan
Bali Kuno tidak mengenal adanya gelar kebangsawanan. Mereka memakai gelar
seperti pu, sri, ataupun dyah. Nama-nama itu sesungguhnya menunjuk pada jabatan
mereka di pemerintahan, bukan gelar kebangsawanan yang mereka turunkan kepada
keturunan mereka. Gelar kebangsawanan baru muncul setelah invasi Majapahit melalui
patih Gajah Mada dan memperkenalkan sistem kasta yang sebelumnya tidak dikenal
di Bali.
Gajah Mada dengan
cermat dapat memanfaatkan kelemahan orang-orang Bali yang sangat takut akan
kemarahan dewa sehingga membuat paham raja dewa yang menganggap raja adalah
titisan dewa dan segala perintahnya adalah perintah dewa. Made Kembar Karempun
menceritakan bahwa pada masa kerajaan absolute itulah puncak kejayaan dari
kasta itu. Hal ini dapat dibuktikan dengan lontar-lontar yang menyebutkan bahwa
derajat kaum triwangsa sangat tinggi
sedangkan derajat dari kaum sudra
sangatlah rendah. Para raja dan kaum bangsawan dapat melakukan kehendak hati
mereka dengan bebas. Para kaum sudra justru sangat bangga mengaku dirinya
menjadi kum sudra dan diinjak-injak oleh para penguasa karena mereka takut oleh
kutukan dan juga kemarahan dewa. Rakyat dibuat bodoh dengan melarang
mempelajari lontar-lontar agama dan ilmu lainnya. Mereka didoktrin bahwa jika
berani belajar lontar maka mereka akan buduh
(gila) dan ironisnya, masih dipercaya oleh generasi intelektual masa kini.
Ketika Belanda berhasil
menaklukan Bali pada tahun 1908, sesungguhnya berakhirlah sistem pemerintahan swapraja di Bali. Akan tetapi Belanda
justru kembali menghidupkan sisitem kasta di Bali dan justru membuat rakyat
menjadi bodoh dan keturunan raja menjadi semakin semena-mena. Belanda
mendirikan Onderafdeeling yang dapat
disamakan dengan kabupaten sekarang. Kemudian belanda mengangkat mantan raja
yang berkuasa di daerah tersebut menjadi bestuurder
atau setingkat bupati sekarang dengan gelar tjokorda
ataupun anak agoeng. Jadi penulis
secara langsung telah mengungkap asal dari gelar anak agung yang pada zaman kuno maupun zaman majapahit tidak ada.
Jadi gelar anak agung tersebut merupakan
sebutan gelar untuk kepala daerah yang disalah artikan menjadi nama
kebangsawanan oleh para bestuurder
tersebut.
Pada masa kemerdekaan,
pemerintah daerah Bali mengeluarkan Undang-undang Nomor 1/1967, mengenai
dihapuskannya pemerintahan swapraja
di Bali sehingga tidak ada lagi satu lembaga pun yang berwenang memberikan
sebutan atau status sosial baru dalam sistem kekerabatan dan kewenangan
masyarakat etnis Bali. Dengan keputusan ini secara langsung tingkatan kasta
yang telah membelenggu masyarakat Bali selama berabad-abad secara resmi telah
gugur. Keputusan ini tentu menimbulkan pro
dan kontra di kalangan masyarakat. Bagi golongan yang selama ini dirugikan,
tentu keputusan ini sangat menggembirakan. Sedangkan bagi golongan triwangsa tentu ini sangat merugikan mereka
dan hak-hak yang telah mereka peroleh selama berabad-abad menjadi hilang. Akan
tetapi, tidak sedikit dari golongan triwangsa
yang mendukung keputusan ini dengan alasan HAM (Hak Asasi Manusia).
Membaca buku karangan
Made Kembar Karepun ini kita seolah-seolah untuk diajak menyekediki begitu
rumitnya arti dari sebuah nama bagi masyarakat Bali. Begitu sakralnya sebua
nama sehingga bisa mengalahkan sekian banyak manusia yang tidak memiliki nama
atau gelar yang sama dengan mereka. Penulis dengan bahasa yang mudah dimengerti
berhasil membawa pembaca di zaman di mana Hak Asasi Manusia tidak dianggap
penting. Made kembar karepun juga memberikan gambaran sosioliogis dan
psikologis masyarakat pada zaman itu secara mendetail. Bukti-bukti mengenai penyelewengan gelar ini
di beberkan secara detail dan juga secar mendalam.
Tulisan karya sesepuh pande dan juga warga bhujangga Bali ini memberi gambaran
perlawanan kaum tertindas untuk mendapatkan kesetaraan dalam setiap bidan
kehidupan. Penulis berhasil melihat permasalahan kasta dari sisi kaum tertindas
dan juga dari golongan “istimewa”. Sehingga tulisan dalam buku ini terasa
sangat objektif. Pandangan dari
ahli-ahli luar negeri yang telah meneliti Bali pun tidak luput dari pembahasan
buku ini dan tentu saja menambah fakta-fakta yang telah dikemukakan. Akan
tetapi, ungkapan tiada manusia yang sempurna layak di alamatkan untuk Made
Kembar Karepun. Meskipun buku ini tergolong baik. Masih ada beberapa kekurangan
dari buku ini seperti ada beberapa bahasa Jawa Kuna yang tidak ada
terjemahannya, sehinngga membuat bingung pembaca. Selain itu, ada pengunaan
tata bahasa yang belum sesuai dengan kaidah bahasa saat ini juga mengurangi
nilai dari buku ini. Akan tetapi, secara umum buku ini layak dikonsumsi oleh
masyarakat umum untuk memberikan pengetahuan tambahan mengenai betapa rumitnya
permasalahan kasta di Bali.
Sebagai generasi muda
Bali, sudah selayaknya kita dapat berpikir logis dan tidak terpancing oleh
isu-isu yang berkembang yang ingin membangkitkan kembali sistem kasta yang
telah usang dimakan perubahan zaman. Kita harus selektif dalam menerima
informasi yang kita dapatkan. Kita tidak boleh terseret untuk melakukan hal-hal
yang manguntungkan segelintir orang. Jadi, membaca buku ini sangat berguna dalam
menentukam sikap kita ke depan.


1 Komentar
Semangat ya
BalasHapus